Walaupun mungkin tak ada
Aku akan tetap mencari oase itu.
Apapun yang harus aku lalui.
11/10/08
Walaupun mungkin tak ada
Aku akan tetap mencari oase itu.
Apapun yang harus aku lalui.
11/10/08
Ini apa?
Terus menggangguku; menyebalkan.
Aku tak bisa menghirup udara lagi,
sulit.
Mengapa nafasku terasa berat?
Mereka angkat bicara dan berkata,
“Apa yang sedang kamu pikirkan?
Ungkapkanlah maka semuanya akan kembali seperti dulu.”
Aku tak tau apa yang harus kuungkapkan,
aku tidak punya apa-apa yang dipikirkan.
Namun kesulitan ini terus mengganggu
Aku ingin hidup tenang dan bernafas seperti sedia kala.
Plis?
Aku transparan
Ada namun tak terlihat
ataupun terasa kehadirannya
Mereka tak peduli,
lalu mengapa aku harus?
Mereka acuh,
lalu mengapa aku tidak?
Mereka seperti binatang jadi-jadian—
Seperempat manusia,
tiga perempat anjing.
Anjing gila yang membawa penyakit.
Mereka seperti bangkai
Tak berguna namun baunya menyebalkan—
setidaknya untukku.
Mereka seperti kampret
Kecil, tak berarti, namun mengganggu.
Sunggung hebat—
anjing-anjing gila itu.
Hanya bisa menggonggong omong kosong
Lalu acuh seperti berotak udang
Orang gila;
mati saja.
Aku tak perlu mereka—
penipu dan pengkhianat.
Munafik dan iblis
Tanduk mereka mulai memanjang
Namun hanya yang terpilih yang mampu melihat;
yang terpilih menjadi terbuang.
Aku, contohnya.
25/9/08, 11:15
Aku kehilangan pikiranku
Aku kehilangan hatiku
Aku kehilangan akalku.
Setengah gila sudah aku ini
Warasku tersisa setengah gelas saja!
Apapun yang kulakukan
tak aku mengerti kenapa;
Otakku tertinggal jauh di dalam sebuah hutan belantara—
yang mana gelap, dingin dan lembab.
Entah apa alasannya mereka memanggilnya
“komplikasi kehidupan”.
Yang aku tau,
semenjak jiwaku terperosok ke jurangnya
Aku kehilangan seluruh perasaanku.
Semuanya kecuali satu—
amarahku.
12/10/08
Diam!
Diam, setan!
Aku tak butuh tangamu,
atau pula niat burukmu.
Plastik, kamu!
Memuakkan;
aku ingin muntah.
Jahanam!
Urusi saja hidupmu,
dirimu,
yang sama sampah seperti aku.
Diam!
Diam, setan!
Menyenangkan membayangkannya:
Satu persatu dari mereka tertabrak truk,
lalu tertimpa keledai bertelinga panjang.
Dan mati.
25/9/08, 10:35
Aku benci ketidakbisatiduran!
Aku benci menghabiskan waktu mencoba
merangkai kata-kata
Aku benci ini semua
Aku bosan
Muak!
Hari ini adalah besok, sudah
Lewat dua jam setengah
Dan aku tidak merasa kantuk sudah datang
Walaupun senang berjumpa dengan teman-teman malamku
Tetap saja sepi
Tetap saja hening…
Kini semuanya baru terlihat palsu.
Bahkan setan pun bertampang malaikat,
dan bertingkah seperti nabi
Bahkan iblis pun tersenyum layaknya ustadz,
dan bertutur seperti pendeta
Semua yang ada di Bumi
sama dengan plastik.
Palsu.
Pura-pura.
Munafik.
Aku pun sama
Aku pun sama,
karena memang begitulah adanya
apabila hidup dalam dunia yang nelangsa.
Tapi mereka beda
Mereka memang terlahir setan;
memang ditakdirkan menjadi hitam
Kini semuanya terlihat palsu
Bahkan hitam pun berwarna putih,
dan menyengat pelan-pelan—
tidak terasa,
namun pedih kemudian.
Sering kali perasaan tak berdefinisi
Atau malah membutuhkan nama baru.
Selalu sama,
namun berbeda jauh.
Sulit diungkap,
karna kata terhebatpun tak bisa membuat hati lega.
Aku terbiasa menunggu;
sejam, dua jam, setahun, seabad.
Dia ‘kan bosan sendiri.